Potret buram kelestarian keragaman di Indonesia semakin bertambah. Ditandai dengan kerusuhan di Monumen Nasional (Monas) ketika diserangnya massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKK-BB) saat melakukan aksi damai oleh massa yang memakai atribut Front Pembela Islam (FPI), minggu, 1/06. (detik.com / waspada online, 2/06).

Lebih lanjut, lucunya FPI ”merasa” punya alasan kuat untuk membubarkan kegiatan AKK-BB (Waspada Online, 2/06). Menurut nalar FPI, aksi AKK-BB yang mendukung kegiatan aliran Ahmadiyah sudah keterlaluan karena aliran tersebut dianggap sebagai suatu organisasi kriminal. Hal ini dikatakan oleh Munarman, yang mengaku sebagai Komandan Laskar Islam atau Jubir FPI. Lebih parah, Munarman menegaskan bahwa AKK-BB telah menantang FPI dengan mendukung Ahmadiyah dan menyatakan bahwa jika tidak siap perang, jangan menantang. (Kompas, 2/06).

FPI dan Aksi Teror

Tindakan yang dilakukan oleh FPI tersebut, menimbulkan berbagai penilaian atas logika dan nalar berpikir FPI. Organisasi yang mengatasnamakan Islam ini merasa perlu melakukan berbagai macam aksi kekerasan untuk mendukung apa yang menjadi keyakinannya.

Berbagai macam aksi kekerasan pernah dilakukan FPI—yang tentu saja menebarkan teror pada kebhinnekaan Indonesia. Hal ini menimbulkan pertanyaan perbedaan FPI dengan Teroris.

Terorisme, oleh Adrian Humphreys, dalam tulisannya “One Official’s ’refugee’ is anothers’s ‘terrorist” di National Post (17/01/2006), diartikan sebagai tindakan kekerasan dengan motivasi ideologi dan politik yang diarahkan pada masyarakat sipil. Jelasnya, terorisme merupakan tindakan kekerasan terhadap masyarakat sipil untuk mencapai sasaran politik atau ideologi dengan menciptakan rasa takut.

Pengertian terorisme tersebut, tidak ada bedanya dengan kekerasan dan tindakan-tindakan menebar teror yang dilakukan oleh FPI.

Di dalam Pasal 6 Perppu No. 1 Tahun 2006 (ditetapkan sebagai UU dengan UU No. 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Terorisme) pun dinyatakan bahwa setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda orang lain, atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional, dipidana dengan pidana mati atau penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun.

FPI dalam hal ini telah menggunakan kekerasan yang menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas, dengan cara merampas kemerdekaan berpikir, bertindak, berserikat, berpendapat dan berkeyakinan. Jadi apa bedanya FPI dengan teroris.

Tindak Kriminal atas Nama Islam

Lebih parahnya, FPI melakukan kekerasan dengan mengatasnamakan agama (Islam). Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai siapa FPI hingga bisa melakukan tindakan kekerasan dengan mengatasnamakan Islam? Toh Islam sendiri tidak mengajarkan cara-cara kekerasan.

Atas dasar apa FPI bisa menyatakan ahmadiyah selaku organisasi kriminal? Apakah hanya dengan ”Fatwa” dari Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat dengan statusnya yang tidak jelas? Dan atas dasar apa FPI membubarkan kegiatan AKK-BB di Monas?

Indonesia sebagai negara hukum tentu membutuhkan peraturan yang termasuk dalam hierarki peraturan perundang-undangan untuk menetapkan dan mendasarkan sesuatu. Fatwa dalam hal ini tentu hanya sebagai himbauan dan tidak dapat dijadikan dasar nilai atau peraturan. Sepanjang Pemerintah belum menetapkan pembubaran Ahmadiyah, maka Ahmadiyah tidak ada salahnya untuk terus melakukan kegiatan. Jadi tidak ada dasar hukum bagi FPI untuk menyatakan Ahmadiyah selaku organisasi kriminal. Justeru FPI itu sendiri dengan tindakan kekerasannya dapat dinyatakan sebagai organisasi kriminal secara otomatis oleh Undang-Undang.

Terlebih lagi, memang sudah hak dari massa yang tergabung dalam AKK-BB untuk melakukan aksi damai—sebagai hak berserikat, berkumpul dan menyatakan pendapat. Justeru FPI yang telah melanggar hak-hak masyarakat Indonesia dengan melakukan kekerasan dan menerbar teror atas penyampaian pendapat yang dilakukan oleh AKK-BB.

POLRI dalam hal ini, sudah sepatutnya membubarkan (bila FPI merupakan ormas terdaftar), menindak keras dan menghukum para pelaku yang bernaung di dalam organisasi yang mengatasnamakan Islam ini. Tidak perlu ragu akan dasar hukum karena memang sudah terbukti melanggar Undang-Undang dan melecehkan nilai yang terkandung dalam BHINNEKA TUNGGAL IKA.

Adapun mengenai tindakan kekerasan yang mengatasnamakan Islam oleh FPI, sebenarnya tidak perlu untuk dilakukan. Islam (Tuhan Y.M.E) tidak perlu untuk dibela, bisa apa manusia sebenarnya? Tuhan Y.M.E dengan segala sifat Asmaul Husna-NYA tentu tidak perlu dibela oleh manusia. Tuhan hanya ingin ummatnya melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya. Apakah Tuhan Y.M.E dalam hal ini pernah menurunkan wahyu yang berbunyi: ”Wahai Ummat-KU Bela-lah AKU.”



8 Responses to “Tindak Kriminal dengan Mengatasnamakan Islam (FPI dan Teror)”  

  1. 1 miranda

    that’s what i called ratiocination
    logic, impartial, the point is…great thoughts :)

  2. 2 Raharji

    Organisasi Kriminal Berkedok Agama = FPI

    Bila Pemerintah tidak membubarkan, POLRI tidak menindak pelaku, maka dapat dipastikan masyarakat melalui berbagai ormas akan mengganjang FPI hingga dasar organisasi !!!!

    MERDEKA !!!!

  3. 3 RORY

    FPI(Front Pemburu Ifthor), kalo gak dapet Ifthor ngamuk, makanya cepet2 kasih Ifthor, coz kan sudah HABIZ RIZKINYA, makanya suka ngamuk,haiiiii sekalian orang FPI di bumi Indonesia pa kalian smua ngajinya kagak selesai ?…..pa kalian semua kagak pernah diajarin PPKn di sekolahan?…………….pa kalian kagak pernah tau apa makna dari peristiwa Fatkhul Makkah, dan Piagam Madinah,pa kalian kagak faham makna dari surat Al Kafiruun(lakum dinukum Waliyadiin), wahai umat islam se Indonesia kita semua ini janganlah mengikuti suatu organisasi yang anarkhis, kalo ingin jadi umat Islam yang baik ikutilah suri tauladan yang baik,ingatlah sebaik-baik manusia adalah yang baik budi pekertinya,

  4. 4 Si_Un

    Heran bgt deh, sm sodara seiman aja berantem..palagi klo beda iman yaa…Ga habis pikir. Andaikan mereka saling mnegasihi..mau menerima perbedaan, toh kita sama – sama percaya sama Tuhan..aku jamin pasti Indonesia akan penuh kedamaian.
    http://www.infogue.com

  5. 5 Kusbimantoro S.Sn

    FPI, ditakdirkan sebagai titisan kaum khawarij, yang sejak zaman Kalifah Sayidina Umar bin Khatab sudah muncul. Mereka bertipe keras, penentang, dan tetap orang Islam, namun jalannya yang keliru. Yang terjadi di zaman ini sangatlah komplek, seperti apa yang terjadi di Monas Juni lalu. Bisa jadi analisis saya mengatakan bahwa partai politik yang berbasis Islam saat ini sedang kebakaran jenggot. Sebab ada yang korupsi berjamaah. Mereka yang korupsi dan yang belum tertangkap namun sudah terendus KPK dan aparat Negara kemudian menggelar koalisi dan membuat isu BBM, membuat isu Ahmadiyah yang tujuannya adalah pengerahan massa supaya tenaga dan pikiran alat negara terkuras disini. Nawaitu presiden SBY memang baik, namun dia digoyang kabinetnya sendiri (para menteri dari PPP). Untuk apa Suryadharma Ali yang juga menteri dan ketua PPP mengunjungi Habieb Riezieq di penjara kalau bukan memberi dorongan moril. Isu apa yang mereka omongkan, apa mau mengganti agenda PEMILU 2009 dengan cepat agar pemakzulan terjadi? Demikian pula partai lain seperti PDIP notabene mantan presiden Megawati yang juga akan terkena imbas korupsi negara akibat penjualan kapal tanker Pertamina maupun privatisasi demi menambah biaya modal bagi partainya dan bagi-bagi duit untuk rakyat kecil (baca:anggota F-PDIP ramai-ramai mengembalikan dana rapat anggaran BLBI dan lain-lainnya. Ini tidak hanya partai besar saja, PKB Muhaimin Iskandar ternyata dimenangkan pengadilan negeri Jakarta Selatan, Gus Dur bilang :Saya dicurangi oleh menteri Sesneg Hatta Rajasa yang dari PAN itu, dia yang atur agar PKB tidak bisa memenangkan PEMILU 2009. PKB diadu domba dengan PKB di dalamnya. Padahal Gus Dur adalah tokoh yang paling sering menyuarakan demokrasi. Tokoh anti kekerasan, tokoh yang pluralisme, cinta damai, tidak anti agama tertentu. Coba tengok saja siapakah yang berperan membebaskan penculikan wartawan MetroTV di Irak? adalah dengan hasil mediasi Gus Dur, kebetulan saja beliau sudah tahu tokoh-tokoh suku Sunni dan Syiah di Irak. Apa negara ini mau dibuat negara Islam?
    Muhaimin Iskandar, adalah tokoh PKB hasil didikan Gus Dur dan keponakannya, ia adalah korban pertemanan setan koboi senayan. Karena tidak ingin melihat parpol PKB besar, maka cara-cara yang kurang gentleman dipakai. Caranya adalah menyusupkan orang-orang Parpol yang berstandar ganda,untuk melemahkan kekuatan PKB di PEMILU 2009. Saya bukan simpatisan PKB, namun memposisikan diri sebagai orang yang melihat dengan kacamata menurut kebenaran saya sendiri.
    Adalah cara pemikiran Nasionalisme, pandangan brilian Gus Dur yang NU itu diirikan beberapa tokoh sentral lain yang bersebrangan dengan Gus Duritu yang menjadi sebab konflik politik-politik dan ideologi-agama. Gus Durlah yang menggulirkan KPK pertama kali semenjak dia menjadi Presiden. Walau dibentuk di pemerintahan Megawati. Namun proses terbentuknya KPK adalah buah karya Gus Dur dan aliansi yang dipegangnya, hingga “memaksa” DPR dstnya berpikir dan beralih perlahan-lahan menyetujui berdirinya KPK menurut Undang-Undang. Sebetulnya DPR dan Parpol juga ditekan oleh faktor lain yang berperan yaitu bencana kemanusiaan dan bencana alam. Mereka juga takut nantinya apabila tidak menyetujui kebenaran dan kejujuran maka akan kehilangan suara di PEMILU nanti.Juga oleh akibat lain yaitu hukuman Tuhan yaitu kehilangan mata pencaharian. Untung mereka masih manusia yang memiliki akhlaq, yang masih memiliki rasa takut, coba bayangkan jika pola berpikirnya hanya UANG dan KEKUASAAN. Maka jadilah hukum rimba, siapa yang kuat dia yang menang. Padahal dalam hukum negara adalah berdasarkan hukum ketatanegaraan dan perundang-undangan yang berlaku.
    Kembali ke soal FPI tadi, mungkin saja FPI dengan jaringannya memang memiliki agenda yaitu ingin mengganti Pancasila dengan Syariah Islam. Sejarahnya UUD 45 dalam Piagam Jakarta kabarnya pencoretan tujuh kata tersebut konon ada beberapa ulama berhaluan keras tidak setuju, namun pada akhirnya mereka mau menerimanya dengan alasan kebhinekaan Tunggal Ika Indonesia. Mungkin saja beberapa Ulam yang mengkaji kembali itu menjadi bimbang lagi dan akhirnya timbul gerakan-gerakan perlawanan Islam di bebrapa daerah di Indonesia sehinggal lahir pemberontakan Permesta, NII, Kahar Muzakar, Kartosuwiryo dll. Menurut FPI,dan juga parpol berlambangkan Islam, bahwa di dalam Syariah Islam sudah terkandung Pancasila. Maka tidak ada dasarnya dalam Pemilu semua partai tunduk dan menggunakan azas Pancasila. Pembenaran ini dikaji menurut hukum Fiqih dimana ALQuran dan Al Hadist lah sumber dari sumber hukum alam ini, sedangkan Undang-undang adalah bikinan manusia yang lebih banyak mudharatnya. Maka, jika kita melihat itu sebagai penentangan dari kalangan Islam tertentu terhadap hukum negara ini wajar kiranya sebab hukum kita sangat lentur dan tidak tegas sebabnya kelalaian aparatur negaranya.
    Tetapi sekali lagi di atas sudah dijelaskan bahwa FPI mungkin saja titisan yang turun temurun sejak zaman Rasulullulan SAW dari kaum khawarij. Yaitu kaum yang selalu mempertentangkan ajaran Islam, dengan berbagai aliran-alirannya yang keras. Sebab mereka adalah bagian dari zaman Jahiliyah yang disadarkan melalui proses Islamisasi Nabi Muhammad SAW, dengan sifat dasar mereka yang memang sudah watak yang sulit diubah kecuali Taubat Nasuha.
    FPI selalu mencari basis dari golongan yang dhuafa, ada juga orang kaya sebagai penyandang dana. Caranya berdakwah selalu berapi-api, semangat, berkobar, memusuhi golongan tertentu, tidak sebatas Ahmadiyah saja dulu Nasrani juga diserang hingga akhirnya pecah perang Ambon tahun 1999-2000. Idenya adalah demi NKRI, namun sejauh itu mereka hanya memanfaatkan situasi chaos, benar ada laskar Islam. Dan mereka membela perjuangan orang-orang Islam yang tertindas pada perang Maluku dan daerah Palu. Tapi itu dulu, sekarang begitu mereka kuat, dan mendapat dukungan dari parpol berbasis Islam yaitu sebagai balas terimakasih atas perannya di AMbon beberapa waktu lalu maka keadaan berbalik. Sepertinya Polisi kalah dengan FPI.
    Nuansa menguatnya FPI dipicu setelah Aceh menjadi daerah otonomi penuh yang berbasiskan Syariah. Ini memicu daerah lain untuk memposisikan hal yang sama kepada pemerintah pusat dan warganya agar tunduk secara akidah Islam dan syariah syariahnya. Tetapi sekali lagi FPI itu adalah ormas yang tidak terdaftar bukan lembaga masyarakat resmi. Kalangan pelajar direkrut mereka dibina akidahnya menurut porsi dan cara mereka. Penanganan konflik agama selalu dinalar dengan Allahu Akbar! Jika anda tidak setuju dengan cara ini maka anda bukan orang Islam. Hmmm…berarti yang paling benar sendiri adalah siapa bung Baasyir? kelompok anda ataukah Islam yang damai?
    Anda tidak merasa berdosa mengorbankan artefak sejarah dan tempat-tempat museum kraton Jawa Islam yang sebenarnya juga mengajarkan Islam. Golongan anda hanya bersorban putih, mengenakan kafiyeh, sedang yang memakai kain lurik dan surjan dan udheng blangkon anda katakan syirik? Lalu jika mereka melakukan sholat dan berwudlu dengan benar di Masjid anda tetap katakan mereka bukan dari golongan Islam? Kemudian orang-orang jawa yang menari Jawa dan mereka berasal dari HB I dan Sultan Agung ajarannya tetap anda katakan mereka bukan Islam, sebab estetika Islam hanya sajadah dan Al Quran saja. Dimanakah etika lingkungan MMI, LDII, dan HTI maupun sejenisnya jika ternyata tidak sayang makhluk Allah? Anda tidak pernah melihat burung menari di alam, bagaimana mereka bersosialisasi? Picik benar golongan anda itu

  6. 6 busted

    ngapain pikirin hal2 gak penting kayak gitu, semua politikus termasuk habib Rizkik marikik juga mata duitan bisa dibeli. kalo mau perang tentu negara2 di luar islam yang paling hebat. siapa penguasa militer di dunia. Amerika, China itu terkuat dan mereka mayoritas bukan muslim, beranikah anda bertempur dengan mereka. Sudah 10 Tahun tragedi mei dan saksikan balasan dari kami kaum minoritas yang terbantai akan terus bergerak untuk membalas kematian sodara2 kami. berikan kami kaum minoritas 1 pulau saja di indonesia maka kami yang paling hebat di indonesia ini. kami bisa beli tentara bayaran untuk melindungi kami, bisa beli senjata kimia dan nuklir untuk yang mencoba menganiaya kami. kami bisa bayar pembom bunuh diri untuk menghancurkan kalian semua
    ANARCHY_99

  7. Kalau kita mau berpikir lebih politis lagi, FPI merupakan “unregistred underbouw” dari partai PKS, terbukti dari pernyataan Riziq bahwa PKS akan menjadi tempat limpahan suara mereka.
    Dan PKS sendiri yang mengetahui hal ini tentunya mengambil advantage dari pernyataan tersebut, tapi tidak berupaya untuk menyetir polah “underbouw” mereka ini. Wallahualam…

  8. 8 Mr.Nunusaku

    FPI >>>front pemburu imbalan nasi sepiring daripada jadi pengangguran dibawah jembatan dan gak ada makanan…? lebih baik menjadi anggota FPI kalau membuat anarkis atas nama islam imbalannya mendapat nasi sepring kalau melakukan pembunuhan atas nama agama imbalannya 72 bidadari bisa ngesek disorganya islam, Seperti Amrozi CS yang sekarang sedang ngesek dengan bidadari montok siang siang dan malam. Sudah terimah wahyu dari Amrozi cs…? kalau belum FPI harus telefon kesurga taya pada mereka…? bagaimana pelayanan sexuel yang dijanjikan oleh nabi Muhammad…? ya janji Muhammad harus ada buktinya…jangan hanya wahyu dalam penipuan bagi umatnya…..kita kan perlu bukti apa wahyu itu berasal dari Alloh ataukah wahyu penipuan Muhammad…?


Leave a Reply