Maraknya aksi mahasiswa atas kenaikan BBM di segenap kota di Indonesia, mengisyaratkan semakin rendahnya tingkat pemahaman mahasiswa atas komplektisitas masalah sosial-ekonomi yang dihadapi Indonesia kini. Mahasiswa sebagai seseorang yang dididik di bangku perkuliahan sepatutnya mengerti bahwa kekerasan dan aksi pergerakan itu bukan hal yang harus sejalan. Bahkan suatu aksi yang ditandai dengan bentrokan menandakan adanya ketidaksepahaman jalan keluar—merupakan hal yang tidak perlu.

Beberapa waktu yang lalu, Mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi di jakarta (bilangan pejaten) bentrok dengan aparat kepolisian, dimana para mahasiswa dikejar hingga masuk ke dalam kampus universitas dimaksud. Tentu saja mahasiswa dalam hal ini menyalahkan pihak kepolisian dan tidak lupa menyertakan embel-embel pelanggaran HAM. Tapi apakah tebersit bahwa tindakan mahasiswa yang melempar aparat dengan kayu, batu dan semacamnya bukan merupakan pelanggaran HAM pula (lebih tepat dibilang kejahatan karena mahasiswa bukan aparatur negara).

Tidak hanya itu, di depan universitas di bilangan cawang, mahasiswa universitas dimaksud menjalankan aksi dan mengganggu berbagai aktivitas sehingga akan dibubarkan oleh aparat kepolisian, namun menolak hingga terjadi bentrokan. Lebih menyedihkan lagi, mahasiswa melempari aparat dengan batu yang tidak hanya sekali hampir mengenai masyarakat sipil.

Mahasiswa dan Hilangnya Value di dalam Aksi Pergerakan

Entah mengapa, kini aksi dari mahasiswa sudah terasa hambar. Pergerakan mahasiswa kini seakan-akan sudah tidak memiliki value untuk dijunjung tinggi. Pergerakan hanya dijadikan alasan untuk bolos pelajaran, beraksi selayaknya jagoan, bertindak premanisme, dan semacamnya. Sedangkan value yang seharunya turut dalam aksi malah tidak ada. Toh hal ini dapat dilihat dari dibahayakannya masyarakat sipil karena aksi para mahasiswa. Sedangkan sepatutnya output dari pergerakan adalah toh untuk kepentingan masyarakat. Sehingga dapat dikatakan mahasiswa Indonesia yang melakukan pergerakan semacam ini membuktikan hancurnya pola pendidikan tinggi di Indonesia.

Masyarakat—khususnya penulis—tentu jenuh dan bosan dengan retorika mahasiswa yang selalu berdemo tanpa mempunyai solusi. Apakah mereka mengerti bahwa tindakan mereka itu malah menghancurkan anggapan dan penilaian stabilitas sosial, politik dan ekonomi di Indonesia. Alhasil, investor pun enggan untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Bila itu terjadi, maka semakin terpuruklah negara Indonesia tercinta ini, ditambah dengan koleksi buramnya wajah Indonesia di dunia Internasional.

Aksi Tiada Solusi dan Keputusan Tidak Populer

Mengenai kenaikan BBM, sepatutnya mahasiswa mengerti bahwa pemerintah dalam hal ini telah melakukan berbagai cara untuk menghilangkan tekanan subsidi pada BBM dikarenakan kenaikan harga minyak dunia. Hal itu sudah diterangkan oleh pemerintah melalui instansi dan departemen-departemen yang yang berwenang.

Dilihat dari segi politis juga, sepatutnya mahasiswa tahu bahwa sekarang adalah tahun 2008 dan pemilu selanjutnya adalah tahun 2009, politikus seaneh apa yang akan mengambil KEPUTUSAN TIDAK POPULER (seperti kenaikan BBM) menjelang pemilu 2009, kecuali memang benar-benar untuk kebaikan kinerja pemerintah dan kemaslahatan masyarakat Indonesia.

Mahasiswa dalam hal ini, sebagai pihak yang merasa mengerti akan situasi politik, sepatutnya juga mengetahui bahwa tindakan mereka dapat ”di tunggangi” dan ”di kendalikan” pihak-pihak yang berkepentingan (mungkin mereka yang mempunyai kepentingan di Pemilu 2009).

Ada baiknya demi menjaga stabilitas dan kinerja sosial, politik dan ekonomi di Indonesia, setiap pihak yang berkepentingan lebih dewasa dalam menyikapi hal ini. Daripada tercerai-berai lebih baik menyatukan visi, aksi dan tindakan demi mendukung dan menyokong kemajuan dan kebangkitan Indonesia. Memang di dalam demokrasi khususnya, oposisi kerap dibutuhkan, namun terlepas dari cara-cara yang menjauhkan dan menjatuhkan nilai masyarakat Indonesia. Karena hanya dengan pemikiran dan cara damai-lah suatu tindakan dapat cepat terlihat kebenarannya.

Jadi lebih baik tiap masyarakat Indonesia menjalankan peran yang dijalaninya, tiap sub-bagian menjalankan peran yang menjadi bagiannya, tiap kaki menjalankan dan menggerakkan kakinya, selayaknya sistem di dalam tubuh organisasi, bergerak dan berjalan menuju satu arah. Dengan begitu, di harapkan Indonesia bangkit tidak hanya menjadi wacana dan sekiranya masyarakat Indonesia yang sudah termatangkan oleh proses reformasi—yang berkepanjangan—mengerti akan hal ini. Dengan kata lain: ”wahai para mahasiwa, belajar dan pahamilah dulu arti kaca, siapa, dimana, barulah kemudian beraksi dan mengatasnamakan kepentingan masyarakat.” ”Sudahkah anda berkarya demi bangsa dan negara Indonesia tercinta?”



2 Responses to “Mahasiswa dan Aksi Tiada Solusi”  

  1. 1 Soetoyo

    setuju,…….!!!! Demo jaman sekarang tidak bermutu,…

    Karena Mahasiswa itu sendiri, terbukti kurang berpengaruhnya sistem pendidikan di Indonesia,….!!! Mahasiswa menjadi kurang terdidik !!!!

    Salam BUNG !!

  2. Merdeka!!!

    bung, ada beberapa asumsi mendasar tentang gerakan mahasiswa yang sebaiknya kita pahami dahulu. dari dulu ampe sekarang, secara filosofis, aksi mahasiswa adalah gerakan politik nilai. dan mahasiswa emang bukan kapabilitasnya utk ngasi solusi, krn namanya aja siswa, masih belajar. adlah tugas para profesional utk ngasi solusi. apa yg dilakukan oleh teman2 mahasiswa ITB yg mendorong kebijakan wajib belajar 9 tahun pada tahun 70an adalah hasil perjuangan luar biasa yang kondisi pada saat itu memang memungkinkan bagi mahasiswa utk memberikan solusi. namun ini sekali lagi, tergantung pada situasi dan konteks. pada saat ini, hampir tidak mungkin mahasiswa ngasi solusi. menyelesaikan kuliah adalah tugas yang utama bagi mahasiswa. dalam konteks gerakan, memberi tekanan moral dan nilai pada pemerintah adalah fungsi gerakan mahasiswa. jadi wajar jika ada respon dari mahasiswa thd kenaikan harga.

    memang patut disesalkan aksi mahasiswa yang berlangsung kemaren bukanlah wujud intelektualitas mahasiswa. mungkin sistem yang ada sekarang membuat mahasiswa menjadi demikian. jangan timpakan kesalahan seluruhnya pada mahasiswa. mereka beraksi berdasarkan dorongan nurani. apa yg anda sampaikan di atas adalah dorongan logika. sistem pendidikan saat ini tidak membuat kemampuan logika mahasiswa menjadi tajam. salahkanlah pemerintah yg membuat mahasiswa menjadi goblok….:)


Leave a Reply